Showing posts with label isu akidah islam. Show all posts
Showing posts with label isu akidah islam. Show all posts

Wednesday, September 2, 2009

PRINSIP AQIDAH ISLAM

Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.
Allah berfirman dalam kitab suci-Nya, yang artinya:
“Bukankah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…”
(Al Baqarah 177)
Dalam soal takdir, Allah berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti sekejap mata.”
(Al Qomar 49-50)
Nabi juga bersabda dalam sunnahnya sebagai jawaban terhadap malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman:


اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

“Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.”
(HR. Muslim).

IMAN KEPADA ALLAH
Iman kepada Allah mengandung empat unsur:

1.Mengimani Wujud Allah

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’, dan pancaindera.

1. Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya.
Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan, mengkristenkan, atau yang memajusikannya.”
(HR. Al Bukhari)

2. Bukti akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan.
Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.
Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk itu di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya.
Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur.
Kalau makhluk tidak dapat menciptakan diri sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.
Allah menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil qath’i dalam surat Ath Tur:

(Mengapa mereka tidak beriman?) Adakah mereka telah tercipta dengan tiada yang menciptanya, atau adakah mereka yang mencipta diri mereka sendiri?
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”
(Ath Thuur 35)

Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah.
Ketika Jubair bin Muth’im mendengar dari Rasulullah n yang tengah membaca surat Ath Thuur dan sampai kepada ayat-ayat ini:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?”
(Ath Thuur 35-37)

“Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata, “Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.”
(HR. Al Bukhari)

Dalam hal ini kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seseorang berkata kepada Anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu mengatakan kepada Anda bahwa istana dengan segala kesempurnaannya ini tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti Anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Kini kami bertanya pada Anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang berada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?!

3. Bukti syara’ tentang wujud Allah bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluknya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.

4. Bukti indera tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua: a. Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah. Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.”
(Al Anbiyaa 76)

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu…”
(Al Anfaal 9)

Anas bin Malik berkata, “Pernah ada seorang badui datang pada hari Jum’at. Pada waktu itu Nabi tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata, “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah untuk mengatasi kesulitan kami.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya.
Pada hari Jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata, “Hai Rasul Allah, bangunan kami hancur dan harta benda pun tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdoa: “Ya Rabbku, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan janganlah Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami.” Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat, kecuali menjadi terang (tanpa hujan).”
(HR. Al Bukhari)

b. Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud Yang Mengutus para nabi tersebut, yaitu Allah, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman, yang artinya:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.”
(Asy Syu’araa 63)

Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan ijin Allah.
“…dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah…”
(Al Imran 49)

“…dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku…”
(Al Maidah 110)

Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya. Allah berfirman tentang hal ini, yang artinya:
“Telah dekat (datangnya) saat (Kiamat) dan telah terbelah pula bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”
(Al Qomar 1-2)

Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh indera kita itu adalah bukti pasti wujud-Nya.

2.Mengimani Rububiyah Allah
Mengimani rububiyah Allah maksudnya mengimani sepenuhnya bahwa Dialah Rabb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya.

Rabb adalah Yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada Pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah dari-Nya. Allah telah berfirman, yang artinya:

“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.”
(Al A’raaf 54)

“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”
(Faathir 13)

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah, kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir’aun ketika berkata kepada kaumnya,
”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(An Naazi’aat 24),

dan juga ketika berkata, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”
(Al Qashash 38)

Allah berfirman, yang artinya:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”
(An Naml 14)

Nabi Musa berkata kepada Fir’aun: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”
(Al Israa’ 102)

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). Allah berfirman, yang artinya:
“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: ‘Apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”
(Al Mu’minuun 84-89)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab, “Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.”
(Az Zukhruf 9)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”
(Az Zukhruf 87)

Perintah Allah mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus segala perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak mengimani-Nya.

3.Mengimani Uluhiyah Allah
Artinya, benar-benar mengimani bahwa Dialah ilah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Al-Ilah artinya “al-ma’luh”, yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah berfirman, yang artinya:
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(Al Baqarah 163)

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(Al Imran 18)

Allah berfirman tentang Lata, Uzza, dan Manat yang disebut sebagai Tuhan, namun tidak diberi hak uluhiyah:
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya…”
(An Najm 23)

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, uluhiyahnya adalah batil. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”
(Al Hajj 62)

Allah juga berfirman tentang Nabi Yusuf yang berkata kepada dua temannya di penjara, yang artinya: “Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…”
(Yusuf 40)

Oleh karena itu para rasul berkata kepada kaum-kaumnya: “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”
(Al Mu’minun 32)

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil tuhan selain Allah. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah. Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti:

a. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedikit pun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya.

Allah berfirman, yang artinya:
“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.”
(Al Furqan 3)

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diijinkan-Nya memperoleh syafaat…”
(Saba’ 22-23)

“Apakah mereka mempersekutukan Allah (dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.”
(Al A’raaf 191-192)

Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh sangat tolol dan sangat batil bila menjadikan mereka sebagai ilah dan tempat meminta pertolongan. b. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang ditangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya.

Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan rububiyah (ketuhanan) Allah. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(Al Baqarah 21-22)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”
(Az Zukhruf 87)

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
(Yunus 31-32)

4.Mengimani Asma dan Sifat Allah Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah Rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa
tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).

Allah berfirman, yang artinya:
“Allah mempunyai asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Al A’raaf 180)

“…Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(An Nahl 60)

“…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Asy Syuura 11)

Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu:
1. Golongan Mu’aththilah, yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut perkiraan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Pendapat ini jelas keliru karena:

a. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan sesuatu yang serupa dengan-Nya. Andaikata menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam kalam Allah serta sebagian firman-Nya akan menyalahi sebagian yang lain.

b. Kecocokan antara dua hal dalam nama dan sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan. Anda melihat ada dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat, dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, penglihatannya, dan pembicaraannya. Anda juga melihat beberapa binatang yang punya tangan, kaki, dan mata, tetapi kecocokannya itu tidak mengharuskan tangan, kaki dan mata mereka sama. Apabila antara makhluk-makhluk yang cocok dalam nama atau sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi.

2. Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur’an, karena Allah berbicara dengan hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahaminya. Anggapan ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain:

a. Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syara’. Padahal tidak mungkin nash-nash kitab suci Al Qur’an atau Sunnah rasul menunjukkan pengertian yang bathil.

b. Allah Ta’ala berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakikat makna sesuatu yang berhubungan dengan zat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja. Apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu menemukan suara-suara.

Tetapi hakikat hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak maklum, karena hakikat pendengaran jelas berbeda, walau pada makhluk sekali pun. Jadi perbedaan hakikat itu antara Pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh berbeda. Apabila Allah memberitahuan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arsy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakikat bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui.
Buah Iman kepada Allah:

1. Merealisasikan pengesaan Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.

2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mahatinggi.

3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Tuesday, September 1, 2009

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Tuntutan dan Penghayatannya.

بسم الله الرحمن الرحيم

MUQADDIMAH .
Islam bertunjangkan aqidah yang sejahtera . Aqidah yang selamat dari sebarang virus yang menggugat dan menghakis nilai keyakinan kepada Allah Azza Wajalla . Khasnya virus syirik yang bahayanya mampu menghalang kelayakkan seseorang untuk menduduki syurga Allah swt.
Tentunya لا إله إلا الله adalah anti biotic yang efektif untuk membasmi penguasaan virus syirik yang amat merbahaya . Namun begitu , لا إله إلا الله mesti direalisasikan seluruh prinsip dan tuntutannya dalam kehidupan setiap individu . Selamatnya individu tersebut bergantung kepada sejauh mana ia berupaya memiliki prinsip dan melaksanakan tuntutan لا إله إلا الله .

PENGERTIAN لا إله إلا الله .
لا إله إلا الله
: TIADA yang diikuti , dituruti , dipatuhi dan disembah selain daripada Allah swt.

Firman Allah swt :
"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.
( Taha 14 )

Firman Allah swt :
Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.
( Al Fatihah 5 )

لا إله إلا الله : PETUNJUK dan DOA hanya kepada Allah swt .

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka
[1], bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.
( Al Fatihah 6 – 7 )

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi (supaya ia menerima Islam), tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang (ada persediaan untuk) mendapat hidayah petunjuk (kepada memeluk Islam).
( Al Qasas 56 )

لا إله إلا الله : Menyeru supaya TAAT dan TAKUT hanya kepada Allah swt. serta dalam masa yang sama mestilah mendurhakai hawa nafsu yang menyeleweng. Pengertian ini melahirkan sifat dan watak TAQWA kepada Allah swt. apabila ianya dicerna dalam dua keadaan serentak :

1. Tunduk kepada Allah swt. 2. Lawan hawa Nafsu yang menyeleweng .
Firman Allah swt :
Adapun orang yang takutkan keadaan semasa ia berdiri di mahkamah Tuhannya, (untuk dihitung amalnya), serta ia menahan dirinya dari menurut hawa nafsu, Maka sesungguhnya Syurgalah tempat kediamannya
( An Naaziaat 40 – 41 ).

Mereka yang berhak menduduki syurga Allah swt. Ialah mereka yang:

1. Takut pada kebesaran Tuhannya
2. Cegah diri dari pengaruh hawa nafsu

Pengertian Taqwa :
1. Takut dalam erti kata TAAT ( melaksanakan semua bentuk perintah Allah samaada ringan atau berat dan meninggalkan semua larangan Allah swt. )

Cinta yang mendalam kepada Allah swt. dan tidak sampai bermain kayu tiga dengan Allah swt.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“ Hati tidak berasa gembira dan mencapai kelazatan yang sempurna melainkan hati itu sentiasa berada dalam keadaan cinta kepada Allah swt. dan senantiasa menghampirinya dengan apa yang dikasihinya . Tidak mungkin hati itu rasa cinta dan kasih kepadaNya melainkan dengan meninggalkan semua perkara yang dikasihi selainNya. Inilah hakikat لا إله إلا الله “

لا إله إلا الله : Juga memberi erti Mengikut dan mematuhi apa sahaja perintah yang datang daripada Allah swt.
(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".
( Al A’raaf 3 )

Sebagai seorang mukmin kita tidak selayaknya banyak soal dan dalih dalam menerima arahan Allah swt.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَ اخْتِلاَفِهِمْ عَلى أَنْبِيَائِهِمْ .

Maksudnya : “ Dari Abi Hurairah Rha. Berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : Apa yang telah aku larang kamu daripada melakukannya , maka hendaklah kamu menjauhinya dan apa yang aku perintahkan kamu maka laksanakanlah semampu mungkin , maka sesungguhnya telah rugilah orang – orang sebelum daripada kamu kerana banyaknya persoalan mereka dan wujudnya percanggahan pendapat terhadap nabi - nabi mereka .
( Riwayat Bukhari dan Muslim )

Sebagai seorang mukmin , jua tidak seharusnya kita menggunakan logikal manusia semata – mata dalam membuat penilaian ( untuk menerima atau menolak ) sesuatu hukum atau perundangan .

Berkata Imam Syafie Rhm. :
“ Kiranya Islam itu dinilai secara logik , nescaya segalanya rosak dan binasa . Contohnya : kenapa tatkala kita buang air besar , kita hanya diwajibkan basuh sedangkan ianya jelas najis . apabila keluar air mani , kita diwajibkan mandi sedang ianya tidak najis.”

Ini menunjukkan kepada kita , bahawa Islam diamalkan bukan kerana logik atau tidak sesuatu amalan tersebut, tetapi berdasarkan ketaatan menjunjung tinggi titah perintah Allah saw.
Firman Allah swt :

(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".
( al a'raaf : 3 )

Negara kita tidak ketinggalan menerima ancaman dari golongan Aqlaniyyah yang cuba menafsirkan semula Al Quran menggunakan aqal dan logik .
Sabda Rasulullah :
[2]

عن سعيد بن جُبَيْرٍ عن ابْنِ عباسٍ رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ قَالَ فِي اْلقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ .
رواه الترمذي وقال أبو عيس هذا حديث حسن صحيح

“ Barangsiapa yang bercakap mengenai ( menafsirkan ) AlQuran tanpa ilmu ( berdasarkan pandangan aqalnya semata – mata ) , maka silalah sediakan tempat tinggalnya di dalam Api neraka.”
( Riwayat at Tarmizi )

Menafsirkan Al – Quran mestilah berasaskan qaedah yang ditetapkan, bukan secara ' semborono ' atau ' hentam kromo ' juga bukan mengikut ' faham sendiri ' yang jauh dari ketetapan qaedah muktabar.

Ijma’ ulama’ menggariskan qaedah tafsir dalam 5 usul dan qawai’d [3] :

1. Tafsir Quran dengan Quran
2. Tafsir Quran dengan Sunnah
3. Tafsir Quran dengan kata–kata Sahabat Rhm.
4. Tafsir Quran dengan Lughah Arabiah
5. Tafsir Quran dengan apa yang difahami daripada ayat . ( seperti berasaskan Asbabun Nuzul dan Dhohir ayat . )

Imam As – Sayuthi berkata :

“ Tidak adalah yang lebih jahat dan bodoh daripada daripada ulama’ yang menggunakan ayat – ayat quran untuk membenarkan pemikirannya ( yang berdasarkan hawa nafsu ) ”
Sebagai seorang mukmin kita tidak harus degil dan takabbur terhadap ketetapan Allah swt.
لا إله إلا الله memaksa kita tunduk dan patuh kepada kebenaran Ilahi . Keengganan kita hanyalah membawa kita ke Neraka Allah dan kekal di dalamnya .

Firman Allah swt :
" Dan orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat keterangan kami, mereka itu ialah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.”
( Al Baqarah 39 )

Sifat enggan dan takabbur inilah menjadi 2 sifat aktif yang mendorong seseorang menjadi kufur kepada Allah swt. sebagaimana ianya pernah menimpa Iblis A’laihi Laknatullah .

Firman Allah swt :
“ Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir.”
( Al Baqarah 34 )

Namun , amat malang sekali apabila budaya degil dan sombong ini berkembang pesat dikalangan segelintir ummat Islam semata – mata kerana sikap tidak mahu mengalah . Sedang kita telah diajar oleh Allah swt :

“(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah ugama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) ugama Allah, iaitu ugama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah ugama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
( Ar Ruum 30 )

لا إله إلا الله : Bererti menolak dan menjauhkan diri secara menyeluruh akan semua bentuk undang – undang dan cara hidup Jahiliyyah .

“Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? Padahal - kepada orang-orang yang penuh keyakinan - tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih pada daripada Allah. . Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang berlaku zalim.”
( Al Maaidah 50 – 51 )

[1] Ayat 69 dari Surah An Nisa’ ( di bawah ) adalah menafsirkan golongan yang mendapat nikmat .
[2] Sunan at Tarmizi . Jilid 5 . Muka surat 199 . كتاب تفسير القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
[3] Keterangan lanjut Ruju’ Kitab أصول التفسير و قواعده Karangan Syeikh Khalid Abdur Rahman .

TIADA ILAH MELAINKAN ALLAH

1. La Ilaha Illallah (Tiada Tuhan melainkan Allah) merupakan bahagian pertama daripada kalimah pengakuan keimanan. Ia bermaksud tiada sesuatu pun yang patut ditujukan pengabdian melainkan Allah.

2. Muhammad Rasulullah (Muhammad Utusan Allah) adalah bahagian keduanya. Ia bermaksud, pengabdian itu mestilah dilakukan berlandaskan ajaran dan cara yang ditunjuk ajar oleh Rasulullah SAW.

3. Mentauhidkan Allah dengan makna makrifat yang sebenarnya hendaklah merangkumi tiga perkara iaitu :

a. Tauhid Rububiyyah
b. Tauhid Uluhiyyah
c. Tauhid Al-Asma’ was Sifât

TAUHID RUBUBIYYAH
Rububiyyah berasal daripada perkataan Rabb (رب) dan dari konteks linguistik, ia mengandungi beberapa maksud seperti berikut:
pemeliharaan anak atau pemeliharaan kebun. Ia menjaga dari segala kesusahan kerana ia bertugas sebagai pemelihara, penjaga, pengasuh segala urusan yang berhubung dengan anak atau kebun.
Pemimpin atau pembela umat. Apabila ia memerintah ia menjalankan kepimpinan dan hukum; dan ia dianggap sebagai pemimpin masyarakat.
Majikan yang menjaga dan mengawasi rumah atau memilikinya juga digunakan sebagai penternak atau gembala. Ia bererti ada pertaliannya dengan fungsi raja yang memerintah, mendidik dan membela serta mengawasi.
Jika perkataan Rabb digunakan untuk Dzat Ilahi, maka hakikatnya Allah merupakan Raja bagi segala makhluk. Ia sebagai Tuhan, sebagai Raja bagi segala raja, yang Maha Agung dan Maha Hakim serta tidak ada yang lebih agung dan hakim selainNya. Dia yang menjadikan alam semesta dengan pengaturan yang rapi, pemeliharaan dan pengendalian pergerakan seluruh alam.
Dari segi istilah syara’, Tauhid Rububiyyah bermaksud mentauhidkan Allah pada mencipta alam, mengurus dan mentadbirkannya, memiliki, memelihara, menghidup, mematikan dan seterusnya, di mana terkandung di dalamnya juga beriman dengan qadar.
Tauhid ini sahaja tidaklah mencukupi dalam mencapai iman dan Islam, kerana Allah SWT menyatakan bahawa orang-orang musyrik juga mengakui tauhid ini.

FirmanNya di dalam Surah Yunus ayat 10:

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi atau siapakah yang memliki penciptaan, pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah! Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?”

Rujuk juga surah Az-Zukhruf ayat 87, Al-Ankabut ayat 61 dan 63

Keingkaran manusia kepada adanya pencipta hanya kerana kesombongan dan ketakburan, bukan bererti fitrah manusia menolak adanya Pencipta. Kerana itu apabila kepompong kesombongan yang mengurung fitrah itu hilang, maka tanpa disedari manusia pada suatu waktu terpaksa menyerahkan dirinya kepada kekuasaan Allah dan meminta tolong kepadanya. Hakikat ini menjadi ketara apabila manusia menempuh detik-detik genting di mana segala pengharapan terputus, kecuali yang bersandar kepada Yang Maha Esa.

FirmanNya di dalam surah Luqman ayat 32:
“Apabila mereka dilamun ombak yang (besar) seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya. Tetapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, maka sebahagian mereka sahaja yang tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”

Daya memahami adanya Allah Yang Maha Pencipta, sudah semulajadi dibekalkan ke dalam naluri manusia. Oleh yang demikian, perbahasan mengenai Tauhid Rububiyyah bukanlah merupakan sasaran utama perbincangan Al-Quran. Persoalannya adalah sama ada fitrah ini dibentuk, dipupuk, diseleweng atau dibanteras. Jika dibanteras, bermakna manusia tersebut menzalimi dirinya sendiri. Sekiranya terseleweng maka akan songsanglah insan tadi mengharungi hidup ini, celakalah dia di neraka nanti.

Dan seandainya naluri ini dipupuk, dididik dan dipertingkatkan ketaqwaannya, maka pasti akan menatijahkan keyakinan yang bulat bahawa Allah sahajalah sumber cipta, Allah sahajalah yang berhak menerima pengabdian – ringkasnya pengiktirafan uluhiyah Allah secara mutlak dan serba merangkumi.

TAUHID ULUHIYYAH
Iaitu dengan ikhlas memberikan kepada Allah, dengan mahabbah (cinta) kepadaNya, khauf (takut) kepadaNya, raja’ (pengharapan), tawakal dan raghbah (keinginan) dan rahbah (kegerunan) hanya kepada Allah. Bahawa semua itu dibina dengan ibadat yang ikhlas zahir dan batinnya kepada dan kerana Allah. Tidak ada sekutu bagiNya, tidak dijadikan ibadat itu kepada selainNya. Seterusnya menerima segala hukum dengan yakin dan redha.

Perkataan Ilah lazimnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu sebagai TUHAN. Penterjemahan itu tidaklah salah tetapi pemahaman Bahasa Melayu terhadap perkataan Tuhan tidak merangkumi keseluruhan makna Ilah yang dikehendaki oleh nas syara’.

Selain daripada Allah, perkataan Tuhan ditujukan kepada patung-patung berhala atau dewa-dewi Hindu dan Buddha. Orang Melayu yang beragama Islam yang tidak menyembah patung-patung itu tadi sudah tentu menganggap bahawa mereka sudah menyempurnakan kewajipan mengiktiraf Allah sebagai Tuhan dan bebas daripada syirik. Sedangkan pemahaman serpihan terhadap makna Ilah itu tadi akan mendedahkan mereka kepada pelbagai syirik lain yang boleh berlaku tanpa disedari dan di luar kefahaman.

Untuk mengelakkan kekeliruan, eloklah kita perhatikan kepada penggunaan perkataan ILAH di dalam Al-Quran:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ILAHnya…”
(Al-Jatsiyah : 23)

Di dalam ayat ini Allah SWT telah menujukan perkatan ILAH kepada hawa nafsu. Sudah tentu perkataan ILAH yang diertikan sebagai tuhan menurut kefahaman biasa tidak akan dapat menggambarkan hawa nafsu sebagai tuhan. Ini membuktikan bahawa perkataan ILAH mempunyai makna yang jauh lebih luas dari perkataan tuhan yang biasa.

Perkataan ILAH membawa kepada pengertian yang saling melengkapi. Untuk tujuan perbincangan, kita bahagikan ia kepada enam pengertian iaitu:

1. Tuhan menurut pengertian lazim
2. Tumpuan atau matlamat pengabdian
3. Tempat perlindungan
4. Tumpuan kecintaan
5. Pemberi rezeki
6. Sumber perundangan

1. TUHAN – Menurut Kefahaman Lazim
Kalimah syahadah membawa pengertian bahawa tiada tuhan melainkan Allah, suatu hakikat yang telah kita sedia maklumi. FirmanNya:
“Allah menyaksikan bahawsanya tidak ada ILAH melainkan DIA. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan demikian juga). Yang menegakkan keadilan…”
(Ali Imran : 18)

Allah sahajalah Tuhan di langit dan di bumi, pendeknya di seluruh alam.
“…Dan Dialah ILAH di langit dan di bumi, dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”
(Az-Zukhruf : 84)

Sebagai Tuhan yang tunggal, segala kekuasaan dan penciptaan secara multak adalah hakNya sahaja.

“Katakanlah (Wahai Muhammad) : Ajaklah mereka yang kamu anggap (mereka itu berkuasa) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit mahupun di bumi. Dan mereka tidak mempunyai saham sedikit pun dalam pencapaian langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya.”
(Sabâ : 22)

2. ILAH – Tumpuan Dan Matlamat Pengabdian
Kita mengakui bahawa tiada yang berhak disembah selain Allah dan Allah sahajalah tumpuan serta matlamat pengabdian kita, tidak yang lain.

Bahkan sememangnya manusia dan jin itu diciptakan oleh Allah untuk tujuan pengabdian kepadaNya. Penyembahan dan pengabdian ini dilakukan dengan melaksanakan ibadat kepada Allah. Sehubungan dengan itu juga, perkataan ibadat mestilah difahami menurut pengertiannya yang sebenar agak ia tidak dipandang sempit.

Pengaruh sekularisma yang memisahkan agama daripada kehidupan mendorong masyarakat agar memahami ibadat sebagai aturcara manusia berhubung dengan Tuhannya semata-mata tanpa ada kaitan dengan urusan kehidupannya di dunia dan hubungannya sesama manusia. Sedangkan kalimah syahadah menuntut supaya ibadah itu dilakukan setiap masa, di setiap tempat, meliputi dan menyerapi setiap aspek serta ruang lingkup hidup insaniah.

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sekalian alam”
(Al-An’am : 162)

“Dan tidaklah mereka itu diperintahkan, kecuali menyembah ILAH yang Esa, yang tiada ILAH melainkan Dia. Maha Suci (Allah) dari apa yang mereka sekutukan dengan Dia.”
(At-Taubah : 31)

Ringkasnya, implikasi kalimah La Ilaha Illallah iaitu ialah, seluruh hidup mestilah berterusan di dalam ubudiyyah kepada Allah. Tiada sebarang pengabdian atau ketaatan yang berdiri sendiri bahkan semua tindakan, perbuatan dan khidmat yang diberikan mestilah terpancar dan bersumber daripada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah semata-mata.

3. ILAH – Tempat Perlindungan
Kepercayaan dan kefahaman tentang kuasa Allah sudah tentu akan mewarasi fikiran bahawa tidak ada siapa yang mampu memberikan perlindungan secara mutlak selain daripada Allah. Segala perlindungan yang diberikan oleh mana jua makhluk adalah bersifat sementara dan bergantung terus kepada keizinanNya. Dia bebas mencabut keizinan itu pada bila-bila masa dan tinggallah insan itu berpaut pada dahan yang rapuh.

Maksud ILAH sebagai tempat perlindungan dapat dilihat dari ayat-ayat berikut sebagai contoh:

“Katakanlah : Aku berlindung dengan Rab manusia, Raja Manusia, ILAH manusia”
(An-Nas : 1-3)

“Dialah Rab timur dan barat, tiada ILAH melainkan Dia. Maka terimalah Dia sebagai Pelindung.”
(Al-Muzammil : 9)

Natijahnya, akan timbullah keyakinan bahawa Allah sahajalah yang mampu memberi manfaat atau mudharat (lihat Al-Ma’idah : 76).
Ia juga akan membebaskan dari segala pautan ketakutan dan pengharapan yang lain dari Allah. Dengan cara ini akan hilanglah rasa gentar untuk melaksanakan hukum hakam Allah, walaupun terpaksa berhadapan dengan apa sahaja cabaran menurut perhitungan manusia.

Segala kemegahan dan kekuasaan kuasa-kuasa makluk itu akan menjdi fatamorgana yang sementara, tidak ubah seperti gagah perkasanya patung wayang kulit. Apabila selesai persembahan maka akan terhimpit-himpitlah mereka antara satu sama lain di dalam peti yang sempit, hinggakan yang paling gagah sebentar tadi akan berada di susunan paling bawah tertindas (lihat Al-Baqarah : 150).

4. ILAH – Tumpuan Kecintaan
Bagi mereka yang benar-benar mempersaksikan La Ilaha Illallah, maka Allah sahajalah yang menjadi tumpuan kecintaan mereka bahkan tiada yang menyamai atau menyaingi kecintaan tersebut. Perhatikan maksud ayat-ayat berikut:

“Katakanlah: Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara mara, isteri-isteri dan kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah semua itu lebih kamu cintai dari cinta kamu kepada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya? Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (durhaka).
(At-Taubah : 24)

“Dan ada di antara manusia orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang yang berbuat zalim itu mengetahui tatkala mereka melihat azab…”
(Al-Baqarah : 165)

Segala cinta dan kasih sayang bagi mereka yang benar-benar beriman adalah hasil kecintaan kepada Allah. Sabda Nabi SAW yang bermaksud:

“Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya nescaya dia akan merasa kemanisan iman, iaitu apabila Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari segala sesuatu selain keduanya, apabila seseorang mengasihi seseorang yang lain kerana Allah, dan apabila dia benci untuk kembali kepada kufur sebagaimana bencinya ia untuk dicampakkan ke dalam api neraka”
– Riwayat Bukhari dan Muslim